Photobucket Weblog ini dibuat semata2 hanya untuk pribadi, bertujuan untuk Berbagi imajinasi,Kreasi, dan Pengetahuan, yok... kita berkarya dan berbagi ilmu bersama meski sedikit ilmu namun berguna bagi bersama
  • Home 1
  • Bisnis
  • Contact
  • TV
  • Log In
  • Sabtu, 20 Agustus 2011

    Fullwaving Honda Beat (Part-2)

    Part-2: Mengganti Regulator Fullwave & Modifikasi Jalur Kelistrikan

    Setelah memodifikasi alternator menjadi fullwave, kini saatnya mengganti regulator (kiprok) bawaan motor dengan regulator fullwave. Di sini saya memakai regulator milik Honda Tiger. Harga regulator ini sekitar Rp 250rb (branded AHM). Atau bisa menggunakan regulator Tiger produk lain (non-AHM) yang hanya berharga Rp 80rb.

    Regulator Honda Tiger

    Regulator fullwave 1-phase milik Honda Tiger

    Regulator Tiger berukuran sedikit lebih lebar dibanding regulator bawaan Honda Beat. Jadi pinter-pinter menentukan lokasi pemasangannya :) Usahakan nggak jauh dari posisi alternator dan aki, biar irit kabel, huehuehue :D

    Nah, regulator ini memiliki 5 pin/kaki/terminal … 3 pin di atas (kita urut menjadi pin #1, #2, dan #3) dan 2 pin di bawah (kita urut menjadi pin #4 dan #5). Jangan lupa soket kabel untuk regulatornya … bisa dibeli di toko-toko elektronik atau toko onderdil mobil. Biasanya dikenal dengan sebutan “soket 6-kaki baring”. Atau bilang aja soket kontak mobil.

    Nah, sebelum instalasi jalur kabel, jangan lupa cabut fuse 15A atau lepas kabel terminal “+” aki agar nggak terjadi short/konslet secara nggak sengaja.

    Oke. Perhatikan lagi kabel-kabel dari stator … Di situ terdapat 3 kabel standard (putih, kuning, dan biru-kuning), plus satu kabel ekstra (cokelat). Kabel kuning nggak digunakan karena sudah dilepas dari soket kabel dan diisolasi, sementara kabel biru-kuning nggak diganggu gugat (ini jalur positif pulser yang mengatur timing pengapian di CDI). Kabel putih masih duduk manis di soket stator. Jadi sisa kabel ektra (cokelat yang belum terpasang) … inget, kabel ekstra ini sama seperti kabel putih, yaitu sebagai jalur pengisian (charging).

    Nah, di soket regulator lama ada 4 kabel terpasang, yaitu: jalur positif aki (kabel merah), jalur ground (kabel hijau), jalur pengisian (kabel putih), dan jalur lampu (kabel kuning).

    Dari soket lama tadi, pindahkan kabel merah ke pin #1 regulator Tiger. Lanjut, pindahkan kabel hijau ke pin #3 regulator Tiger. Lanjut lagi, pindahkan kabel putih ke pin #4 regulator Tiger.

    Untuk kabel kuning, gabungkan dengan jalur output kunci kontak (kabel hitam, bisa diambil dari fuse 10A) dan pindahkan ke pin #2 regulator Tiger. Pin #2 merupakan jalur “voltase referensi”. Di sini kita bakal memonitor tegangan aki melalui jalur “+” output kunci kontak — kunci kontak terhubung dengan jalur positif aki melewati fuse 10A. Jadi fungsi monitoring aktif jika kontak pada posisi ON.

    Sementara jalur lampu (lampu utama & lampu senja) mengambil suplai listrik dari aki melalui jalur output kunci kontak. Itulah kenapa kabel kuning tadi kita jumper dengan kabel hitam dari output kunci kontak. Dengan begitu lampu hanya bisa dinyalakan jika kunci kontak pada posisi ON.

    Nah, sisa satu pin lagi … Inget kabel ekstra dari stator? Sekarang pasang kabel ini LANSUNG ke pin #5 regulator Tiger (boleh bolak-balik dengan kabel putih, pin #4). Maksudnya “LANGSUNG”, jalur ini nggak boleh numpang ke jalur lain … jadi dari spul langsung ke regulator. Itulah kenapa saya minta gunakan kabel ekstra yang rada panjang :)

    Skema pemasangan secara lengkap bisa dilihat di bawah:

    Skema fullwaving Honda Beat

    Sudah terpasang semua? Sekarang coba hidupkan mesin motornya … Fuse aki (15A) dan/atau kabel terminal aki jangan dipasang dulu. Kemudian nyalakan mesin motor dengan starter kaki (engkol). Bisa menyala? Ok, matikan! Berarti modifikasi alternator dan regulator fullwave berfungsi dengan baik.

    Sekarang pasang kembali fuse 15A dan/atau kabel terminal aki yang dilepas tadi. Kemudian ON-kan kunci kontak dan nyalakan lampu utama. Jika menyala, berarti jalur lampu terpasang dengan baik. Ok, matikan lampunya :D

    Lanjut, ukur voltase di terminal aki menggunakan multimeter. Perhatikan angka di multimeter … itu menunjukkan nilai voltase aki (biasanya kisaran 12.3~12.8V). Kemudian nyalakan kunci kontak dan mesin (boleh pake starter elektrik, boleh pake starter engkol). Lihat lagi angka di multimeter. Nilainya harus lebih tinggi dari 12V … kisaran 13~15V, pertanda output regulator mengambil alih suplai listrik.

    Kemudian nyalakan lampu utama … biasanya voltase bakal turun mencapai 12V atau kurang dikit … ini normal. Lanjut putar gas sedikit (kira-kira setara dengan berjalan pada kecepatan 30~40 km/jam). Nilai voltase bakal naik hingga maksimal 14.5~15.6V … artinya ada suplai dari output regulator. Nilai ini nggak boleh >16V (baik kondisi tanpa beban maupun beban penuh) karena beresiko “menyiksa” aki dan komponen elektrik lainnya, termasuk CDI! Jika output regulator >16V, periksa jalur voltase referensi terpasang dengan baik … atau … dengan terpaksa ganti regulator :) Dan pada kondisi beban penuh, voltase juga nggak boleh kurang dari 12.8V. Kurang dari itu, aki bakal tekor karena tidak terisi (charge) dengan baik.

    Jumat, 19 Agustus 2011

    Instalasi Regulator Fullwave Honda Tiger

    Kalo mau di-posting satu-satu modifikasi fullwave (biasa disingkat “FW”), bakal nggak muat blog ini karena begitu bejibun tipe motor yang beredar di sini :D

    Prinsip dasarnya sama … pada alternator fullwave, spul/kumparan/koil pada stator untuk pengisian (charging) nggak boleh ada SATU BAGIAN PUN dari kawat kumparan yang terhubung ke ground/massa/rangka/bodi (floating ground). Jadi, kedua ujung kumparan musti nancap langsung ke regulator FW sebagai input listrik.

    Catatan: yang nggak tau apa itu ALTERNATOR … alternator adalah “pembangkit listrik” yang mengubah energi gerak (kinetis) menjadi energi listrik — Ada juga yang nyebut “Generator (AC)” atau “(AC) Magneto”, karena emang menghasilkan arus AC (Alternating Current, atau arus bolak-balik, kayak listrik PLN). Biasanya putaran rotor (bagian dari alternator) mengikuti putaran mesin, karena memang terpasang pada as mesin :D

    Pada fullwave, nggak ada kumparan yang terhubung ke ground/massa

    Setelah berhasil mengubah alternator ke tipe fullwave (kebanyakan dari halfwave ke fullwave 1-phase), Rectifier/Regulator pun (atau disingkat R/R atau “Regulator” tok, atau kebiasaan dikenal KIPROK — meski kurang pas :D ) musti diganti dengan regulator untuk kelistrikan fullwave. Karena regulator yang umum dipakai adalah regulator Honda Tiger, jadi di artikel ini kita pakai regulator Honda Tiger sebagai acuan :) Mau pakai regulator lain, silahkan, asalkan regulator tersebut didesain untuk kelistrikan fullwave

    Catatan: yang nggak tau apa itu RECTIFIER/REGULATOR … R/R adalah perangkat yang mengubah listrik AC (Alternating Current = arus bolak-balik) dari alternator, menjadi listrik DC (Direct Current = arus searah) — istilahnya RECTIFIED. Sebelum dialirkan keluar, besaran listriknya dibatasi hingga kisaran 14.5V. Setelah itu dialirkan keluar menuju aki dan perangkat listrik lainnya seperti lampu, CDI DC, dkk.

    Regulator Honda Tiger (fullwave 1-phase)

    Lah, trus jalur-jalur kabelnya diubah juga dong? Ya pasti lah! Tapi nggak semua. Diubah gimana? Ya ikuti skema kelistrikan milik Honda Tiger …

    Wiring regulator Honda Tiger

    Nah, gambar di atas adalah skema jalur pengisian (charging) di Honda Tiger. Nggak banyak modifikasi kabel kan? :D

    Jadi, pada dasarnya, modifikasi kelistrikan halfwave ke fullwave (1-phase) pada motor adalah sama … bedanya cuma terletak pada alternator dan warna kabel doang :D

    Well, yang punya niat tuk modifikasi kelistrikan motornya, tolong baca artikel ini baik-baik … cetak ke kertas kalo perlu :D karena nanti-nantinya saya cuma posting modifikasi alternatornya doang …

    Wasalam …


    sumber : http://kotsk.wordpress.com/2011/05/03/instalasi-reg-fw-tiger/

    Memasang Relay untuk Headlamp

    Penggunaan bohlam berdaya (watt) besar — lebih besar dibanding bawaan pabrik — membutuhkan suplai listrik yang lebih besar pula. Sayangnya, jalur listrik lampu tersebut (kabel-kabel dan sakelar) belum tentu mampu meng-handle suplai listrik sebesar itu. Jika “dipaksa” kabel dan sakelar bisa panas, rusak, atau bahkan terbakar …

    Solusinya, gunakan relay!

    Penggunaan relay pada headlamp nggak berarti bakal membuat cahaya lampu menjadi lebih terang. Relay hanya sekedar sakelar elektrik, yaitu sakelar yang diaktifkan dengan menggunakan arus listrik atau, tepatnya, relay digunakan untuk men”switch” sirkuit berdaya besar melalui sirkuit berdaya kecil. Sementara terangnya cahaya lampu tergantung pada spesifikasi lampu itu sendiri, dan suplai listriknya.

    Catatan: kalo pengen lebih jelas mengenal relay, silahkan search di internet :D

    Oke, gimana cara instalasi relay pada headlamp?

    Perhatikan gambar di bawah … ini diagram wiring standar pada headlamp … sumber listrik -> sakelar on/off -> sakelar hi/lo -> lampu.

    Abaikan jalur-jalur lain! Kita fokus di jalur kabel yang menuju lampu aja :)

    Selanjutnya potong kabel-kabel yang menuju headlamp. Pada gambar di bawah, tampak jalur lampu terbagi dua: [1] jalur A, kabel yang menuju lampu, dan [2] jalur B, kabel yang menuju sakelar (hi/lo) …

    Siapkan dua buah relay … satu relay 4-kaki dan satu relay 5-kaki. Bisa gunakan relay otomotif/mobil (karena relay ini mampu meng-handle daya listrik yang cukup besar). Jangan lupa soket relay-nya, plus kabel secukupnya dan fuse/sikring 10A atau 20A. Kemudian instalasi seperti diagram di bawah ini:

    Catatan: perhatikan bagaimana instalasi relay antara jalur A dan jalur B :)

    Oia, jangan lupa, gunakan kabel yang lebih tebal untuk jalur listrik besarnya — yaitu antara “aki ke relay” dan “relay ke lampu”.


    sumber: http://kotsk.wordpress.com/2011/05/22/memasang-relay-untuk-headlamp/